Gegara Merger, Saham BRISyariah Auto Reject Atas Lagi

Posted on

Harga saham anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yaitu PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) melejit 24.89% di tingkat Rp 1.405/saham hingga sentuh batasan auto reject atas (ARA) dengan optimal peningkatan satu hari 25%

Data perdagangan Bursa Dampak Indonesia (BEI) menulis, di jam 09.17 WIB, saham BRIS ditransaksikan sebesar Rp 314.35 miliar serta volume perdagangan 227.23 juta saham.

Tingkat ARA ini kembali lagi berlangsung sesudah Selasa tempo hari sentuh batasan atas peningkatan optimal 25% di status Rp 1.125/saham.

Sepanjang 5 hari perdagangan paling akhir accumulative semenjak minggu kemarin, saham BRIS naik 65.29%. 1 bulan akhir naik 61%. Serta 3 bulan akhir naik 221%.

BACA – Fakta Genetik Norovirus yang Hebohkan China, Mirip Covid-19

Bahkan juga dalam 6 bulan akhir, saham BRIS melesat 617% dengan kapitalisasi pasar Rp 13.65 triliun

Salah satunya sentimen harga saham BRIS adalah cara Kementerian BUMN yang pada akhirnya memberitahukan proses merger 3 bank syariah BUMN yaitu PT Bank Syariah Berdikari (BSM), BRIS, serta PT Bank BNI Syariah.

Dalam merger ini, Bank BRISyariah diputuskan jadi bank survivor atau substansi yang terima penyatuan (surviving entity) dari merger 3 bank syariah BUMN.

Gagasan penyatuan bank syariah BUMN ini sebenarnya dilempar ke khalayak oleh Menteri BUMN Erick Thohir di 3 bulan kemarin.

Gagasan ini diinginkan dapat selesai di Februari 2021 kelak

Riset Bahana Sekuritas, Muhammad Wafi, memandang momen ini bisa menjadi katalis positif untuk BRIS ke depan ditambah dengan tambahan asset dari 2 bank syariah BUMN yang lain.

“Sebenarnya dengan BRIS jadi survivol semakin lebih gampang sebab dengan status terbuka. BRIS yang hilang akan susah proses sebab perlu kesepakatan pemegang saham khalayak serta yang lain,” tuturnya dalam Closing Bell CNBC Indonesia TV, bersama-sama Erwin Surya Brata.

Ia menjelaskan dengan jadi bank penerima merger, karena itu BRIS akan memperoleh rahmat asset lumayan besar serta ini jadi kekuatan untuk BRIS ke depan.

“[Merger] ini benar-benar positif dari bagian asset, dapat disebutkan asset BRIS bukan yang paling besar tetapi akan terima asset cukup berarti. Di lain sisi, dari bagian mature produk beberapa produk bank syariah dapat disebutkan bertambah tahan kritis. Serta lebih diuntungkan waktu trend suku bunga rendah. Ini lumayan banyak menggerakkan industri bank syariah menarik dalam 2 tahun akhir.”

Untuk catatan asset paling besar masih dipunyai BSM. Sejumlah Rp 114.4 triliun di Juni 2020 atau naik 13.26% dari masa sama tahun kemarin.

Selanjutnya diikuti BNI Syariah dengan asset Rp 50.78 triliun atau naik 17,8%. Lalu BRISyariah naik 34.7% yoy jadi Rp 49,6 triliun, serta asset Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) Rp 31.09 triliun atau naik 6.5% yoy. Keseluruhan asset keempatnya dapat capai Rp 245.87 triliun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *